Selasa, 27 Desember 2011

ADAB MAKAN SECARA ISLAM


ADAB MAKAN SECARA ISLAM

فقال تعالى : { يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا } ( المؤمنون : 51 ) ، وقال
تعالى : { يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم } ( البقرة : 172 )
Alloh SWT telah berfirman: {Hai utusan, makan hal-hal yang baik dan berbuat baik} (Al-Mu'minun: 51), dan Alloh SWT telah berfirman: {Hai orang beriman, makan hal-hal baik yang Kami telah menyediakan} (Al-Baqarah: 172),

Orang Muslim melihat makanan dan minuman itu sebagai sarana, dan bukan tujuan. Ia makan dan minum untuk menjaga kesehatan badannya karena dengan badan yang sehat, ia bisa beribadah kepada Allah Ta'ala dengan maksimal. Itulah ibadah yang menyebabkannya memperoleh kemuliaan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia tidak makan minum karena makanan dan minuman, serta syahwat keduanya saja.
Oleh karena itu, jika ia tidak lapar ia tidak makan, dan jika ia tidak kehausan maka ia tidak minum. Rasulullah saw. bersabda, "Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali kami lapar, dan jika kami makan maka kami tidak sampai kekenyangan."
Etika Sebelum Makan

Etika sebelum makan adalah sebagai berikut :

1. Makanan dan minumannya halal, bersih dari kotoran-kotoran haram, dan syubhat, karena Allah Ta'ala berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian." (Al-Baqarah:172).
Yang dimaksud rizki yang baik ialah halal yang tidak ada kotoran di dalamnya.

2. Ia meniatkan makanan dan minumannya untuk menguatkan ibadahnya kepada Allah Ta‘ala, agar ia diberi pahala karena apa yang ia makan, dan ia minum. Sesuatu yang mubah jika diniatkan dengan baik, maka berubah statusnya menjadi ketaatan dan seorang Muslim diberi pahala karenanya.

3. Ia mencuci kedua tangannya sebelum makan jika keduanya kotor, atau ia tidak dapat memastikan kebersihan keduanya.

4. Ia meletakkan makanannya menyatu di atas tanah, dan tidak di atas meja makan, karena cara tersebut lebih dekat kepada sikap tawadlu', dan karena ucapan Anas bin Malik ra, "Rasulullah saw. pernah makan di atas meja makan atau di piring." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

5. Ia duduk dengan tawadlu dengan duduk berlutut, atau duduk di atas kedua tumitnya, atau menegakkan kaki kanannya dan ia duduk di atas kaki kirinya, seperti duduknya Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. bersabda,
"Aku tidak makan dalam keadaan bersandar, karena aku seorang budak yang makan seperti makannya budak, dan aku duduk seperti duduknya budak." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

6. Menerima makanan yang ada, dan tidak mencacatnya, jika ia tertarik kepadanya maka ia memakannya, dan jika ia tidak tertarik kepadanya maka ia tidak memakannya, karena Abu Hurairah ra berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya." (Diriwayatkan Abu Daud).

7. Ia makan bersama orang lain, misalnya dengan tamu, atau istri, atau anak, atau pembantu, karena Rasulullah saw. bersabda,
"Berkumpullah kalian di makanan kalian niscaya kalian diberi keberkahan di dalamnya." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).


Etika ketika sedang Makan
Di antara etika sedang makan ialah sebagai berikut:

1. Memulai makan dengan mengucapkan basmalah, karena Rasulullah saw. bersabda,
"Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Ta'ala. Jika ia lupa tidak menyebut nama Allah, maka hendaklah ia menyebut nama Allah Ta‘ala pada awalnya dan hendaklah ia berkata, Dengan nama Allah, sejak awal hingga akhir." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

2. Mengakhiri makan dengan memuji Allah Ta‘ala, karena Rasulullah saw. bersabda,
"Barangsiapa makan makanan, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku, dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan upaya dariku', maka dosa-dosa masa lalunya diampuni." (Muttafaq Alaih).

3. Ia makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, mengunyah makanan dengan baik, makan dari makanan yang dekat dengannya (pinggir) dan tidak makan dari tengah piring, karena dalil-dalil berikut
Rasulullah saw. bersabda kepada Umar bin Salamah,
"Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu (pinggir)." (Muttafaq Alaih).
"Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka oleh karena itu, makanlah dari pinggir-pinggirnya, dan janqan makan dari tengahnya." (Muttafaq Alaih).

4. Mengunyah makanan dengan baik, menjilat piring makanannya sebelum mengelapnya dengan kain, atau mencucinya dengan air, karena dalil-dalil berikut:
Rasulullah saw. bersabda,
"Jika salah seorang dari kalian makan makanan, maka ia jangan membersihkan jari-jarinya sebelum ia menjilatnya." (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).
Ucapan Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw. memerintahkan menjilat jari-jari dan piring. Beliau bersabda,
"Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang mana keberkahan itu berada." (Diriwayatkan Muslim).

5. Jika ada makanannya yang jatuh, ia mengambil dan memakannya, karena Rasulullah saw. bersabda,
"Jika sesuap makanan kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membuang kotoran daripadanya, kemudian memakan sesuap makanan tersebut, serta tidak membiarkannya dimakan syetan." (Diriwayatkan Muslim).

6. Tidak meniup makanan yang masih panas, memakannya ketika telah dingin, tidak bernafas di air ketika minum, dan bernafas di luar air hingga tiga kali, karena dalil-dalil berikut:
Hadits Anas bin Malik ra berkata, "Rasulullah saw. bernafas di luar tempat minum hingga tiga kali." (Muttafaq Alaih).
Hadits Abu Said Al-Khudri ra, bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di minuman. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).
Hadits lbnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di dalam minuman, atau meniup di dalamnya. (Diriwayatkan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

7. Menghindari kenyang yang berlebih-lebihan, karena Rasulullah saw., bersabda,
"Anak Adam tidak mengisi tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Anak Adam itu sudah cukup dengan beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika ia tidak mau (tidak cukup), maka dengan seperti makanan, dan dengan seperti minuman, dan sepertiga yang lain untuk dirinya." (Diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini hasan).

8. Memberikan makanan atau minuman kepada orang yang paling tua, kemudian memutarnya kepada orang-orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya, dan ia menjadi orang yang terakhir kali mendapatkan jatah minuman, karena dalil-dalil berikut:
Sabda Rasulullah saw.,
"Mulai dengan orang tua. Mulailah dengan orang tua."
Maksudnya, mulailah dengan orang-orang tua.
Rasulullah saw. meminta izin kepada Ibnu Abbas untuk memberi makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau, sebab Ibnu Abbas berada di sebelah kanan beliau, sedang orang-orang tua berada di sebelah kiri beliau. Permintaan izin Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas untuk memberikan makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau itu menunjukkan bahwa orang yang paling berhak terhadap minuman ialah orang yang duduk di sebelah kanan.
Sabda Rasulullah saw.,
"Sebelah kanan, kemudian sebelah kanan." (Muttafaq Alaib).
"Pemberi minuman ialah orang yang paling akhir meminum."

9. Ia tidak memulai makan, atau minum, sedang di ruang pertemuannya terdapat orang yang lebih berhak memulainya, karena usia atau karena kelebihan kedudukannya, karena hal tersebut melanggar etika, dan menyebabkan pelakunya dicap rakus. Salah seorang penyair berkata, Jika tangan-tangan dijulurkan kepada perbekalan, Maka aku tidak buru-buru mendahului mereka,
sebab orang yang paling rakus ialah orang yang paling buru-buru terhadap makanan.

10. Tidak memaksa teman atau tamunya dengan berkata kepadanya, ‘silakan makan', namun ia harus makan dengan etis (santun) sesuai dengan kebutuhannya tanpa merasa malu-malu, atau memaksa diri malu-malu, sebab hal tersebut menyusahkan teman atau tamunya, dan termasuk riya', padahal riya' itu diharamkan.

11. Ramah terhadap temannya ketika makan bersama dengan tidak makan lebih banyak dari porsi temannya, apalagi jika makanan tidak banyak, karena makan banyak dalam kondisi seperti itu termasuk memakan hak (jatah) orang lain.

12. Tidak melihat teman-temannya ketika sedang makan, dan tidak melirik mereka, karena itu bisa membuat malu kepadanya. Ia harus menahan pandangannya terhadap wanita yang makan di sekitarnya, dan tidak mencuri-curi pandangan terhadap mereka, karena hal tersebut menyakiti mereka membuat mereka marah dan ia pun mendapat dosa karena perbuatannya tersebut.

13. Tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Misalnya, ia tidak boleh mengibaskan tangannya di piring, tidak mendekatkan kepalanya ke piring ketika makan agar tidak ada sesuatu yang jatuh dari kepalanya ke piringnya, ketika mengambil roti dengan giginya ia tidak boleh mencelupkan sisanya di dalam piring, dan tidak boleh berkata jorok, sebab hal ini mengganggu salah satu temannya, dan mengganggu seorang Muslim itu haram hukumnya.

14. Jika ia makan bersama orang-orang miskin, ia harus mendahulukan orang miskin tersebut. Jika ia makan bersama saudara-saudaranya, ia tidak ada salahnya bercanda dengan mereka dalam batas-batas yang diperbolehkan. Jika ia makan bersama orang yang berkedudukan, maka ia harus santun, dan hormat terhadap mereka.
Etika Setelah Makan.

Di antara etika setelah makan ialah sebagai berikut:
1. Ia berhenti makan sebelum kenyang, karena meniru Rasulullah saw. agar ia tidak jatuh dalam kebinasaan, dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasannya.
2. Ia menjilat tangannya, kemudian mengelapnya, atau mencucinya. Namun mencucinya lebih baik.
3. Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu adalah bagian dari syukur atas nikmat.
4. Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya, dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta‘ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi.
5. Memuji Allah Ta‘ala setelab ia makan, dan minum. Ketika ia minum susu, ia berkata, "Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah rizki-Mu (kepada kami)". Jika berbuka puasa di tempat orang, ia berkata, "Orang-orang yang mengerjakan puasa berbuka puasa di tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian."
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 185-191.

IKRAR PUTRA INDONESIA


IKRAR  PUTERA  INDONESIA


AKU MENGAKU PUTERA INDONESIA,/ DAN BERDASARKAN   PENGAKUAN INI.

-   AKU MENGAKU / BAHWA AKU ADALAH MAKHLUK TUHAN AL-KHALIK YANG MAHA ESA / DAN BERSUMBER PADANYA

-   AKU MENGAKU BERTUMPAH DARAH SATU / TANAH AIR INDONESIA.

-   AKU MENGAKU BERBANGSA SATU / BANGSA INDONESIA.

-   AKU MENGAKU BERJIWA SATU , JIWA PANCASILA.

-   AKU MENGAKU / BERBUDAYA SATU , BUDI DAYA BAHASA INDONESIA.

-   AKU MENGAKU / BERNEGARA SATU , NEGARA KESATUAN  REPUBLIK INDONESIA , YANG BERDASARKAN PANCASILA.

-   AKU MENGAKU / BERTUJUAN SATU , MASYARAKAT ADIL DAN MAKMUR BERDASATKAN PANCASILA , / SESUAI DENGAN ISI PEMBUKAAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945.

-   AKU MENGAKU / BERCARA KARYA SATU / PERJUANGAN BESAR DENGAN AKHLAQ  DAN INSAN MENURUT RIDHO TUHAN YANG MAHA ESA.

BERDASARKAN PENGAKUAN INI ,/ DAN DEMI KEHORMATAN AKU BERJANJI /  AKAN BERSUNGGUH-SUNGGUH MENJALANKAN KEWAJIBAN / UNTUK MENGAMALKAN SEMUA PENGAKUAN-PENGAKUAN INI ,/ DALAM KARYA HIDUPKU SEHARI-HARI.

SEMOGA TUHAN YANG MAHA ESA / MEMBERKATI NIATKU INI ,/ DENGAN TAUFIQ DAN HIDAYAHNYA SERTA INAYAH  NYA.

Senin, 26 Desember 2011

SODAKOH


SODAKOH
Mengenai Sodakoh di dalam Al-Quran, Al-Hadits telah disebutkan beberapa keutamaan sodakoh dan orang yang melakukannya. Baca dan renungilah secara baik dalil-dalil di bawah ini! BerSodakohlah, dan Anda akan merasakan betapa dahsyatnya kekuatan Sodakoh
1. Sodakoh adalah Amal yang Utama
Rasulullah telah bersabda :
اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى, وَ الْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ وَ الْيَدُ السُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ
Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi, dan tangan di bawah adalah yang meminta.”
‘Umar bin Khaththab pernah berkata :
إِنَّ اْلأَعْمَالَ تَتَبَاهَى, فَتَقُوْلُ الصَّدَقَةُ : أَنَا أَفْضَلُكُمْ
Sesungguhnya amalan-amalan itu saling membanggakan diri satu sama lain, maka Sodakoh pun berkata (kepada amalan-amalan lainnya), ‘Akulah yang paling utama di antara kalian’.”
2. Melindungi dari Bencana
Ingatlah hadits Rasul di bawah ini, Sodakoh ini :
دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ
Obatilah orang sakit di antara kalian dengan Sodakoh.”[4]
Sebagian para salaf berpendapat bahwa Sodakoh bisa menolak bencana dan musibah-musibah, sekalipun pelakunya adalah orang zhalim. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan, “Sesungguhnya Sodakoh bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim, atau bahkan orang kafir, karena Allah l akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan Sodakoh tersebut…”.[5] Ibrahim An-Nakha’i juga menegaskan, “Para salaf berpandangan bahwa Sodakoh dapat menghindarkan orang yang zhalim (dari berbagai marabahaya dan kesusahan).”[6]
3. Berlipat Ganda Pahalanya
Allah l telah berfirman, “Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah [2] : 261)
Rasul juga bersabda :
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ, وَ لاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ, وَ إِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ
Barangsiapa berSodakoh senilai satu biji kurma yang berasal dari mata pencaharian yang baik dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik–, maka sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian dipelihara untuk pemiliknya sebagaimana seseorang di antara kalian memelihara anak kuda, sehingga Sodakoh itu menjadi (besar) seperti gunung.”[7]
Yahya bin Ma’ad berkata, “Aku tidak mengetahui adanya sebuah biji yang beratnya sebanding dengan gunung di dunia, kecuali dari biji yang diSodakohkan.”
4. Menghapus Dosa dan Kesalahan
Rasul bersabda :
تَصَدَّقُوْا وَلَوْ بِتَمْرَةٍ, فَإِنَّهَا تَسُدُّ مِنَ الْجَائِعِ وَ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
BerSodakohlah kalian, meski hanya dengan sebiji kurma. Sebab, Sodakohdapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan, dan memadamkan kesalahan, sebagaimana air mampu memadamkan api.”
Beliau n juga pernah memberikan nasihat kepada para pedagang :
يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ, إِنَّ الشَّيْطَانَ وَ اْلإِثْمَ يَحْضِرَانِ الْبَيْعَ, فَشُوْبُوْا بَيْعَكُمْ بِالصَّدَقَةِ
Wahai sekalian pedagang, sesungguhnya setan dan dosa menghadiri jual beli kalian, maka sertailah jual beli kalian dengan Sodakoh.”
5. Menjadikan Harta Berkah dan Berkembang
BerSodakoh bisa menjadikan pelakunya memiliki harta yang berlimpah. Maka, jadilah orang kaya, dengan berSodakoh. Allah Ta’ala berfirman, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya). Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya’.” (Saba’ [34] : 39)
Rasulullah n bersabda :
إِنَّ اللهَ لَيُرَبِّي لأَحَدِكُمُ التَّمْرَةَ وَ اللُّقْمَةَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فُلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ أُحُدٍ
Sesungguhnya Allah akan mengembangkan Sodakoh kurma atau sepotong makanan dari seorang di antara kalian, sebagaimana seorang di antara kalian memelihara anak kuda atau anak untanya, sehingga Sodakoh tersebut menjadi besar seperti bukit Uhud.”
6. Melapangkan Jalan ke Surga, Menyumbat Jalan ke Neraka
Allah l berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran [3] : 133-134)
Rasulullah bersabda :
اِجْعَلُوْا بَيْنَكُمْ وَ بَيْنَ النَّارِ حِجَابًا وَلَوْ بِشِقِّ التَّمْرِ
Buatlah penghalang antara dirimu dan api neraka walaupun hanya dengan separuh butir kurma.”[12]
7. Bukti Kebenaran dan Kekuatan Iman
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah menegaskan :
وَ الصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ
Sodakoh adalah menjadi burhan (bukti).”
Maksudnya, Sodakoh adalah bukti keimanan pelakunya. Sesungguhnya orang munafik menolak keberadaan Sodakoh karena tidak meyakininya. Barangsiapa yang mau berSodakoh, maka hal itu menunjukkan kebenaran imannya.[14]
Rasul n juga bersabda :
لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ اْلإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا
Sifat kikir dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.”[15]
8. Membawa Keberuntungan dan Merupakan Pintu Gerbang Semua Kebaikan
Allah k telah berfirman, “Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr [59] : 9)
Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sehahagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imran [3] : 92)
9. Penggemar Sodakoh Mendapat Naungan di Mahsyar
Sodakoh akan menolong pelakunya dari kesengsaraan dalam perjalanan menuju alam akhirat. Rasulullah n bersabda :
كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ
Setiap orang akan berada di bawah naungan Sodakohnya, hingga diputuskannya perkara-perkara di antara manusia.”[16]
Di dalam hadits lain, beliau n juga bersabda :
ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ
Naungan seorang mukmin di hari kiamat adalah Sodakohnya.”[17]
10.Pahalanya Mengalir Terus Setelah Mati
Rasul n bersabda :
إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنُ مِنْ عَمَلِهِ وَ حَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ –وَ ذَكَرَ مِنْ ذَلِكَ- وَ مُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لابْنِ السَّبِيْلِ بَنَاهُ أَوْ نَهَرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَتِهِ وَ حَيَاتِهِ يَلْحَقَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
Pahala amalan dan kebaikan yang bakal menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya –-beliau menyebutkan di antaranya–, (yakni) mushaf yang ia tinggalkan, masjid yang ia bangun, rumah untuk orang yang dalam perjalanan yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, atau Sodakoh yang ia keluarkan dari hartanya di kala sehat dan hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya
11.Menghadiahkan Pahala Sodakoh kepada Mayit Disyariatkan
Menurut para ulama ahlus sunnah, bahwa Sodakohyang kita keluarkan untuk seseorang yang telah meninggal dunia, maka pahalanya akan sampai kepada si mayit. Hal ini merupakan bukti betapa agungnya Sodakoh dan betapa mulianya orang yang gemar berSodakoh. Banyak hadits yang mempertegas masalah ini. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah  :
أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِيُّ n فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّ أُمِّي اُفْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَ لَمْ تُوْصِي, وَ أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ. أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا؟ قَالَ : نَعَمْ
Bahwasanya ada seseorang yang datang menemui Rasulullah n seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba dan tidak berwasiat. Aku menduga, sekiranya ia mampu berbicara, tentu ia ingin berSodakoh. Apakah ia akan mendapatkan pahala bila aku berSodakoh atas nama ibuku?’ Beliau menjawab, ‘Ya’.

Selasa, 20 Desember 2011

TANDA-TANDA HARI KIAMAT


TANDA-TANDA HARI KIAMAT
Tanda-tanda yang menunjukan semakin dekatnya hari kiamat terbagi menjadi 2 macam, yaitu tanda-tanda yang Sughro (kecil) dan tanda-tanda yang Kubro (besar). Jika peristiwa-peristiwa yang menjadi tanda-tanda kecil sudah terjadi maka akan datang kemudian peristiwa dalam tanda-tanda yang besar, baru setelah itu hari kiamat benar-benar terjadi….
Tanda-tanda hari kiamat yang merupakan tanda-tanda yang Sughro (kecil), adalah :
1. Umat manusia menjauhkan diri dari para ulama’ dan fuqaha’.
2. Dicabutnya ilmu faraidh dan adanya perselisihan dalam pembagian warisan. 3. Tertolaknya shodaqah dan banyaknya kaum wanita.
4. Hilangnya ilmu, merajalelanya Minuman Keras dan Perzinaan.
5. Orang berpegang Teguh pada Agama seperti Memegang Bara Api.
6. Jarak waktu terasa semakin singkat.
7. Empat golongan(tujuan) orang beribadah Haji.
8. Menyalahgunakan takdir.
9. Berlebih-lebihan dalam menggunakan Do’a.
10. Orang Mukmin lebih Hina dari pada Hewan.
11. Bermegah-megahan dalam membangun Masjid.
12. Tipu daya berkedok Agama.
13. Ulama’ penyebar fitnah, Al-Qur’an hanya tinggal tulisannya dan Islam hanya tinggal nama.
14. Ambisi terhadap kedudukan (jabatan).
15. Penguasa yang mendustai rakyatnya.
16. Penguasa yang di ingkari rakyatnya.
17. Penguasa yang melupakan kepentingan rakyat.
18. Tentara-tentara yang kejam.
19. Sedikit yang mengerti agama, banyak penguasa tapi tidak bisa menjamin keamanan.
20. Manusia lebih memuliakan harta.
21. Mencari penghasilan tanpa pandang halal atau haram.
22. Banyak yang rakus terhadap dunia.
23. Kekuatan agama terletak pada harta.
24. Masjid menjadi tempat pemecahan urusan dunia semata.
25. Al-Qur’an sebagai alat propaganda.
26. Merajalelanya Riba di kalangan umat.
27. Pria menyerupai wanita dan wanita menyerupai pria.
28. Manusia lebih senang mendidik anjing dari pada mendidik anak dan manusia berhati binatang.
29. Banyaknya bencana alam, musik dan biduanita.
30. Di pungutnya pajak oleh pemerintah, zakat menjadi piutang, laki-laki tunduk pada istri dan anak durhaka pada orang tua.
31. Umat islam pecah menjadi 73 golongan.
32. Pembohong mengaku sebagai nabi.
33. Terjadinya tiga gerhana.
Jika diantara tanda-tanda hari kiamat  sudah ada yang terjadi maka hari kiamat mungkin sudah dekat , Wallahu A’lam
Sedangkan yang merupakan tanda-tanda yang Kubro, jika peristiwa ini terjadi maka hari kiamat sudah diambang pintu adalah:
1. Munculnya Dajjal.
2. Munculnya Imam Mahdi.
3. Turunnya Nabi Isa a.s
4. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.
5. Matahari keluar dari barat.
6. Keluarnya Dabbah.
7. Meluasnya Dukhan (asap)
8. Runtuhnya Ka’bah dan sinarnya Al-Qur’an.
9. Keluarnya Rihun Baridah.
10. Keluarnya api dan rusaknya dunia terus menerus.
( kitab Fafirru Ilallah)
Semoga kita diselamatkan Allah swt dari kepedihan di hari Kiamat.