Selasa, 10 Januari 2012

Wanita dan Rasa Kue


Top of Form
Bottom of Form
Wanita dan Rasa Kue

Ibnu Abbas bukan cuma seorang yang pandai dan cerdik, tetapi juga tampan. Banyak gadis tergila-gila padanya. Namun, dia hanya ingin beristri wanita salihah. Allah mengabulkan keinginannya.
Pada suatu hari, istrinya diajak bersilaturahmi ke semua kerabat dan handai taulan. Tetapi, orang-orang, terutama kaum lelaki, selalu lebih melirik pada sang istri ketimbang Ibnu Abbas. Ibnu Abbas merasakan lirikan itu penuh nafsu dan gairah. Hal ini membuatnya galau.
Akhirnya, Ibnu Abbas mengundang para rekan dan kerabatnya berkunjung kerumahnya. Dia menyediakan mereka hidangan kue berbentuk sama, tetapi beraneka warna, mulai dari putih, coklat, kuning, dan hitam. Ibnu Abbas mempersilakan para tamunya mencicipi hidangan itu. ”Wah, kue yang coklat ini lezat,” bisik seorang tamunya.
”Tetapi, kue yang putih ini juga nikmat,” bisik tamu lainnya. Tamu yang telah mencicipi kue coklat itu tidak percaya, lalu mencoba kue-kue yang disarankan rekan-rekannya. ”Nah, rasanya sama ‘kan dengan kue yang berwarna coklat tadi?” tanya seorang rekannya.
Perbincangan para tamu berkutat pada kue yang beraneka warna, namun satu rasa, manis semua. Akhirnya, Ibnu Abbas berbicara, ”Saudara-saudaraku semua, saya sengaja memberi warna kue ini dengan warna putih, coklat, kuning, hitam, namun rasanya sama, manis semua. Begitu juga dengan istri-istri saudara. Meraka yang berkulit putih, coklat, kuning, dan hitam, walaupun berbeda warna, rasanya bisa saya pastikan sama semua.”
Rasulullah saw menganjurkan kepada mereka yang sudah beristri, jika melihat wanita lain lalu bernafsu, hendaknya segera pulang dan menunaikan kewajibannya sebagai suami terhadap istri. Apa yang dimiliki wanita lain juga ada pada istri kita.
Sementara itu, terhadap mereka yang belum menikah, dalam hadisnya Rasulullah berkata, ”Wahai para pemuda, siapa pun di antara Anda yang sudah
mampu [memberi nafkah lahir batin] segeralah menikah. Sementara bagi yang belum mampu, lebih baik baginya berpuasa karena puasa dapat membendung hawa nafsu.”
Dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad bin Hambal, nabi bersabda, ”Pandangan [bernafsu] adalah anak panah yang beracun dari busur Iblis. Barang siapa yang menahan pandangannya dari kemolekan wanita, Allah akan memberikan kenikmatan dalam hatinya sampai hari perjumpaannya dengan Allah.”

SESAMA WANITA DI TEMPAT KERJA


Top of Form
Mengapa wanita senang memusuhi rekan kerja sesama wanita di tempat kerja?
Tidak semua kita bisa bekerja profesional. Tidak jarang seorang pekerja mengintimidasi atau memusuhi rekan kerjanya. Disabotase dan dibuat supaya susah. Diperlakukan tidak baik.
Memang 60% tindakan tidak profesional ini dilakukan kaum Adam. Tapi kaum pria itu tidak pilih bulu. Berbeda dengan wanita. Riset menunjukkan, sekitar 70% sasaran sikap permusuhan seorang wanita itu adalah wanita lagi.
Ini sangat disayangkan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di jaman modern (tapi purba) ini kaum pria mendominasi tempat kerja, sehingga tantangan kaum wanita untuk maju itu lebih berat. Untuk bisa berhasil di perusahaan, tempat kerja, dan berbagai organisasi, wanita itu harus berjuang keras. Lebih keras dari kaum pria.
Tapi sayangnya, justru sesama wanita yang paling sering menjatuhkan rekannya supaya tidak maju. Ada sikap-sikap memusuhi dan cukup kejam (menurut artikel riset itu lho). Ada sikap tidak mau menolong, tidak mau membuat gampang.
Memang tidak semua seperti itu. Tapi angka 70% itu mengejutkan. Dan ini menunjang desas-desus selama ini bahwa boss wanita itu cenderung memperlakukan anak buah wanita atau kolega nya dengan lebih keras dan tidak respek.
Mungkin ini naluri ya?
Jadi kalau anda wanita dan bekerja, mungkin anda harus ekstra hati-hati, ya. Jangan sampai naluri seperti itu kemudian membuat kita tidak profesional. Apalagi terhadap sesama kaum Hawa yang sedang berjuang di tengah male dominated prehistoric society..